Sabtu, 26 September 2026. Pukul 17 : 23 WIB
Tidak semua lansia dapat menjalani masa tua dengan kondisi yang tenang. Sebagian masih harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan pekerjaan sederhana, sementara sebagian lainnya bertahan dengan bantuan dari orang-orang di sekitar.
Kondisi tersebut dialami oleh Muhi, 68 tahun, Emi, 73 tahun, dan Ihat, 65 tahun, tiga lansia di Bogor yang menjalani kehidupan dengan kondisi dan tantangan masing-masing.
Pada Jumat, 25 September 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan bantuan sembako kepada ketiganya untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Muhi Hidup Sebatang Kara Setelah Mengalami Kebutaan Sejak Remaja


Muhi, 68 tahun, sudah tidak memiliki istri dan kini hidup sebatang kara di rumah kontrakan.
Muhi mengalami kebutaan sejak berusia sekitar 15 tahun. Kondisi tersebut telah dijalaninya sejak masa remaja hingga kini memasuki usia lanjut.
Setiap hari, Muhi berusaha keluar dan berkeliling pasar. Dalam kesehariannya, ia juga kerap mendapatkan makanan dari orang-orang yang peduli dan bersedia membantu.
Dengan keterbatasan penglihatan dan tanpa keluarga yang tinggal bersamanya, bantuan dari orang-orang di sekitar menjadi bagian penting dalam kehidupannya sehari-hari.
Ibu Emi Kehilangan Empat Anak dan Masih Memulung

Sementara itu, Emi, 73 tahun, sudah lama tidak memiliki suami.
Dari enam anak yang dimilikinya, empat telah meninggal dunia. Sementara dua anak lainnya masih hidup, tetapi salah satunya sudah berumah tangga dan jarang memberikan bantuan.
Ibu Emi pernah berusaha mendapatkan penghasilan dengan berjualan gado-gado. Namun saat berjualan, ia sering menghadapi pelanggan yang berutang sehingga usaha tersebut akhirnya tidak dapat dilanjutkan.
Kini, Ibu Emi bertahan hidup dengan memulung. Ketika penghasilan tidak mencukupi, ia juga kerap meminjam uang kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di usia 73 tahun, Ibu Emi masih berusaha mencari penghasilan dengan kemampuan yang dimilikinya.
Ibu Ihat Tetap Memulung Bersama Penghasilan Suami yang Terbatas

Kisah lainnya datang dari Ihat, 65 tahun, yang tinggal bersama suaminya.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, Ibu Ihat bekerja sebagai pemulung. Ia juga terkadang mengantar orang ke pasar.
Sementara sang suami bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan sekitar Rp400 ribuan per bulan.
Dengan penghasilan yang terbatas, keduanya tetap berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan pekerjaan yang dapat mereka lakukan.
Bantuan Sembako untuk Meringankan Kebutuhan

Untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok para penerima manfaat, Yayasan Amal Peduli Nusantara memberikan paket sembako dengan jumlah beras yang disesuaikan.
Bapak Muhi dan Ibu Emi masing-masing menerima beras 5 Kg, sedangkan Ibu Ihat menerima beras 10 Kg.
Isi bantuan lainnya terdiri dari:
- Minyak 2 Liter
- Mie instan 20 bungkus
- Telur 1 Kg
- Garam 400 gram
- Sarden 1 kaleng
- Susu kental manis 1 kaleng
- Biskuit Regal 3 pack
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan makanan dan bahan pokok sehari-hari sekaligus sedikit meringankan beban para penerima manfaat.
Muhi menjalani hidup seorang diri setelah mengalami kebutaan sejak usia 15 tahun dan kini banyak mengandalkan kebaikan orang yang ditemuinya. Ibu Emi harus menghadapi kehilangan empat anak dan masih memulung setelah usaha jualan gado-gadonya berhenti. Sementara Ibu Ihat tetap bekerja memulung untuk membantu kebutuhan keluarga dengan penghasilan suami yang terbatas.
Tiga kisah tersebut menunjukkan bahwa setiap lansia memiliki perjuangan yang berbeda. Meski usia terus bertambah dan kondisi kehidupan tidak selalu mudah, mereka tetap berusaha bertahan dengan kemampuan yang dimiliki.
Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi Muhi, Emi, dan Ihat beserta keluarga mereka. Semoga semuanya senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di usia senja.

