Suami Tiada, Stroke, hingga Dagangan Tak Selalu Laku: Kisah Tiga Lansia di Bogor

Jumat, 18 September 2026. Pukul 17 : 23 WIB 

Memasuki usia lanjut, kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Namun ketika kondisi kesehatan menurun dan dukungan keluarga terbatas, menjalani hari-hari bisa menjadi semakin berat.

Kondisi tersebut dialami oleh Ibu Ewi, Ibu Titin, dan Ibu Iis, tiga lansia di Bogor yang memiliki perjuangan berbeda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada Kamis, 17 September 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan bantuan sembako kepada ketiganya sebagai bentuk kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Ibu Ewi Dirawat Satu Anak Setelah Mengalami Stroke

Ibu Ewi, 71 tahun, sudah kehilangan suaminya. Saat ini ia juga mengalami stroke dan membutuhkan perawatan dalam menjalani kesehariannya.

Dari empat anak yang dimiliki, satu anak menjadi pihak yang merawat Ibu Ewi. Sementara tiga anak lainnya disebut jarang memberikan bantuan.

Dengan kondisi kesehatan yang terbatas dan dukungan keluarga yang tidak banyak, Ibu Ewi menghadapi kesulitan dalam menjalani aktivitas dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Peran anak yang merawat menjadi sangat penting bagi Ibu Ewi untuk menjalani keseharian di tengah kondisinya saat ini.

Ibu Titin Masih Memulung untuk Bertahan

Sementara itu, Ibu Titin, 63 tahun, juga telah kehilangan suami. Kini ia tinggal bersama cucunya.

Dua anaknya masih berusaha membantu, tetapi hanya sebatas kemampuan yang mereka miliki. Karena bantuan tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ibu Titin masih memulung untuk mendapatkan penghasilan.

Di usia yang sudah lanjut, Ibu Titin tetap berusaha bekerja dengan kemampuan yang ada agar kebutuhan dirinya dan keluarganya dapat terpenuhi.

Ibu Iis Tetap Berjualan Kentang di Tengah Kondisi Kesehatan

Kisah lainnya datang dari Ibu Iis, 73 tahun, yang tinggal bersama suaminya.

Keduanya berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan kentang. Namun dagangan tersebut tidak selalu laku, sehingga pemasukan yang diperoleh juga tidak tetap.

Selain menghadapi kondisi ekonomi yang terbatas, Ibu Iis juga mengalami tekanan darah tinggi, sementara suaminya mengalami sakit pada bagian kaki.

Dengan kondisi tersebut, keduanya tetap berusaha menjalankan usaha sederhana yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bantuan Sembako untuk Meringankan Kebutuhan

Melihat kondisi ketiga lansia tersebut, Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan paket sembako dengan jumlah beras yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima.

Ibu Ewi dan Ibu Titin masing-masing menerima beras 5 Kg, sementara Ibu Iis menerima beras 10 Kg.

Isi paket bantuan lainnya terdiri dari:

  • Minyak 2 Liter
  • Mie instan 20 bungkus
  • Telur 1 Kg
  • Garam 500 gram
  • Sarden 1 kaleng
  • Susu kental manis 1 kaleng
  • Biskuit Regal 3 pack

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan makanan dan bahan pokok sehari-hari, sekaligus sedikit meringankan beban yang harus mereka jalani.

Ibu Ewi kini menjalani hari-hari dengan kondisi stroke dan dirawat oleh satu anak di tengah minimnya bantuan dari anak-anak lainnya. Ibu Titin masih memulung meski sudah tinggal bersama cucu dan hanya mendapat bantuan seadanya dari dua anaknya. Sementara Ibu Iis tetap berjualan kentang bersama suami meski dagangan tidak selalu laku dan keduanya juga memiliki keluhan kesehatan.

Tiga kisah tersebut menunjukkan bahwa setiap lansia memiliki tantangan yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Di tengah keterbatasan kesehatan, penghasilan, dan dukungan keluarga, mereka tetap berusaha menjalani hari-hari sesuai kemampuan masing-masing.

Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi Ibu Ewi, Ibu Titin, dan Ibu Iis beserta keluarga mereka. Semoga semuanya senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di usia senja.