Sabtu, 9 Mei 2026. Pukul 11 : 29 WIB

( Dokumentasi : Hujan deras yang mengguyur kawasan Jalan Lintas Sumatera di Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, memicu longsor yang menimbun badan jalan dan menewaskan tiga orang. Foto bersumber dari situs jawapos. )
Hujan Deras Sore Hari Berubah Menjadi Bencana di Jalur Lintas Sumatera
Tapanuli Utara, Sumut – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, berubah menjadi bencana tanah longsor yang memutus akses utama Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Tarutung–Sipirok pada awal Mei 2026.
Peristiwa ini terjadi di Desa Hutabarat, Kecamatan Pahae Julu, pada Selasa, 5 Mei 2026 sekitar pukul 16.30 WIB. Tebing di sekitar jalan nasional tiba-tiba runtuh saat hujan masih berlangsung deras. Material tanah dan bebatuan langsung menutup badan jalan dan menghantam kendaraan yang sedang melintas.
Mobil Pikap Terseret Longsor, Korban Terjebak di Dalam Kendaraan
Menurut laporan kepolisian dan BPBD, sebuah mobil pikap jenis Isuzu Traga yang mengangkut sayuran menjadi korban utama dalam kejadian tersebut.
Material longsor menghantam kendaraan hingga terseret ke arah sungai dan mengalami kerusakan berat. Proses evakuasi berlangsung sulit karena longsor susulan masih berpotensi terjadi di lokasi.
Dalam kejadian ini tercatat:
- 3 orang meninggal dunia
- 1 orang mengalami luka berat
- 1 kendaraan roda empat rusak berat
Korban meninggal terdiri dari dua penumpang mobil pikap dan seorang remaja yang ikut membantu proses evakuasi namun tertimbun longsor susulan.
Jalan Nasional Sempat Putus Total

( Dokumentasi : Ilustrasi longsor tapanuli, Foto bersumber dari situs tirto )
Longsor menyebabkan akses Jalinsum Tarutung–Sipirok lumpuh total selama proses penanganan berlangsung.
Material tanah, batu, dan pohon menutup seluruh badan jalan sehingga arus kendaraan dari dua arah tidak dapat melintas. Petugas gabungan bersama masyarakat langsung melakukan pembersihan menggunakan alat berat untuk membuka kembali akses nasional tersebut.
Kemacetan panjang sempat terjadi karena jalur ini merupakan salah satu penghubung utama wilayah Sumatera Utara bagian selatan.
Rumah Warga Sekitar Ikut Terdampak
Selain menimpa kendaraan dan menutup jalan nasional, longsor juga menyebabkan tanah di sekitar lereng menjadi labil dan mengancam permukiman warga sekitar lokasi kejadian.
Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami dampak ringan akibat material longsor dan aliran lumpur di sekitar badan jalan, meski tidak ada laporan rumah tertimbun total. Warga sekitar juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena hujan masih terus turun dalam beberapa hari berikutnya.
Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama
BNPB menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi beberapa hari sebelumnya menjadi faktor utama pemicu longsor di kawasan Pahae Julu. Wilayah dengan kontur perbukitan dan lereng curam dinilai sangat rentan mengalami longsor saat curah hujan tinggi berlangsung terus-menerus.
BMKG juga mengingatkan potensi hujan lebat masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara selama awal Mei 2026.
Harapan dan Doa
Peristiwa longsor di Pahae Julu menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat membawa dampak besar dalam waktu singkat, terutama di wilayah dengan kondisi lereng yang rawan longsor.
Semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan penghiburan, sementara masyarakat yang terdampak dapat segera kembali menjalani aktivitas dengan aman.
Harapannya, proses pemulihan akses jalan dan penanganan wilayah rawan longsor dapat berjalan cepat sehingga kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.

