Hidup di Mushola dan Berutang untuk Makan, Tiga Lansia Terima Bantuan Sembako

Selasa, 1 September 2026. Pukul 18 : 11 WIB

Bagi sebagian lansia, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari masih menjadi persoalan yang harus dipikirkan setiap hari. Ada yang harus berutang di warung dan membayarnya setelah memiliki uang, ada yang tinggal di mushola karena tidak memiliki tempat tinggal tetap, dan ada pula yang masih memulung di usia senja.

Pada Senin, 31 Agustus 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyalurkan bantuan sembako kepada tiga lansia yang tinggal di wilayah Penjaringan dan Tebet, Pancoran.

Bantuan diberikan kepada Bapak Lusi Bin Muslan, Bapak Mansur, dan Ibu Giarsih yang masing-masing menjalani kehidupan dengan kondisi ekonomi dan dukungan keluarga yang terbatas.

Isi Bantuan Sembako

Paket bantuan yang diberikan kepada masing-masing penerima terdiri dari:

  • Beras 5 kilogram
  • Minyak goreng 2 liter
  • Mie instan 20 bungkus
  • Telur 1 kilogram
  • Garam 400 gram
  • Sarden 1 kaleng
  • Susu kental manis 1 kaleng
  • Biskuit Sari Gandum 20 pcs

Pak Lusi, Bertahan Hidup dari Memulung dan Berutang untuk Makan

Bapak Lusi Bin Muslan, 73 tahun, hidup sebatang kara sejak istrinya meninggal dunia. Beliau juga tidak memiliki anak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak Lusi masih bekerja sebagai pemulung. Namun, penghasilan dari memulung tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Dalam kondisi tertentu, beliau harus berutang makan di warung dan baru membayarnya ketika sudah memiliki uang. Kehidupan yang serba terbatas membuat kebutuhan sederhana seperti makanan pun terkadang harus diperoleh dengan cara berutang.

Pak Mansur, Tinggal di Mushola dan Mengandalkan Bantuan Warga

Bapak Mansur, 71 tahun, telah berpisah dengan istrinya yang pergi kembali ke kampung. Beliau juga tidak memiliki tempat tinggal tetap dan kini tinggal di sebuah mushola.

Dari empat anak yang dimiliki, dua telah meninggal dunia, sementara dua lainnya tidak memberikan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pak Mansur juga sering mengalami sakit dan kesulitan melakukan berbagai aktivitas. Dalam kesehariannya, kebutuhan makan lebih banyak terbantu dari warga sekitar yang peduli terhadap kondisinya.

Ibu Giarsih, Tetap Memulung untuk Bertahan Hidup

Sementara itu, Ibu Giarsih, 63 tahun, tinggal bersama cucunya di wilayah Tebet, Pancoran.

Dua anaknya sudah tidak memberikan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Ibu Giarsih masih bekerja sebagai pemulung di usia lanjut untuk mendapatkan penghasilan.

Selain bekerja, beliau juga mendapat bantuan dari warga sekitar yang sesekali membantu kebutuhan hidupnya dan sang cucu.

Bantuan untuk Meringankan Kebutuhan Pangan

Melalui bantuan sembako ini, Yayasan Amal Peduli Nusantara berharap kebutuhan pangan Pak Lusi, Pak Mansur, dan Ibu Giarsih dapat sedikit terbantu.

Bantuan berupa beras, minyak, mie instan, telur, garam, sarden, susu kental manis, dan biskuit diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari serta mengurangi sebagian pengeluaran yang harus mereka tanggung.

Ketiga penerima memiliki perjuangan yang berbeda. Pak Lusi harus bertahan hidup seorang diri dan terkadang berutang untuk makan. Pak Mansur tinggal di mushola dan mengandalkan bantuan warga karena tidak memiliki tempat tinggal tetap. Sementara Ibu Giarsih masih memulung untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama cucunya.

Kondisi mereka menjadi pengingat bahwa masih ada lansia yang menjalani hari tua dengan dukungan yang sangat terbatas.

Yayasan Amal Peduli Nusantara mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan sosial dan kemanusiaan sehingga bantuan dapat terus disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi Pak Lusi, Pak Mansur, dan Ibu Giarsih, membantu memenuhi kebutuhan pangan mereka, serta memberikan sedikit keringanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.