Jumat, 28 Agustus 2026. Pukul 15 : 08 WIB
Di usia lanjut, Ibu Saripah masih mengandalkan hasil memulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara Ibu Ana yang mengalami gangguan pendengaran tinggal bersama suaminya di bawah kolong tol dan bergantung pada penghasilan yang sangat terbatas.
Pada Rabu, 26 Agustus 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyalurkan bantuan sembako kepada dua lansia di Kertajaya, Penjaringan.
Bantuan diberikan kepada Ibu Saripah, 66 tahun, dan Ibu Ana, 63 tahun.
Ibu Saripah Memulung untuk Bertahan Hidup


Ibu Saripah, 66 tahun, hidup sebatang kara di bawah kolong tol.
Setiap hari, ia mengandalkan pekerjaan sebagai pemulung untuk mendapatkan penghasilan. Kondisi tempat tinggal dan pemasukan yang terbatas membuat kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan sangat sederhana.
Ibu Saripah memiliki satu anak. Namun, bantuan yang diterima sangat terbatas, sekitar Rp100.000 setiap dua bulan sekali. Selain itu, sang anak juga terkadang ikut memulung untuk mendapatkan penghasilan.
Dengan dukungan yang minim, Ibu Saripah tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pekerjaan memulung.
Ibu Ana Mengalami Gangguan Pendengaran


Ibu Ana, 63 tahun, mengalami masalah pendengaran di usia lanjut.
Ia tidak memiliki anak dan kini tinggal bersama suaminya di bawah kolong tol. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang suami masih bekerja meskipun usianya sudah lanjut.
Suaminya bekerja sebagai kenek dan montir, dengan penghasilan sekitar Rp20.000 per hari. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.
Kondisi tempat tinggal dan penghasilan yang terbatas membuat kehidupan sehari-hari harus dijalani dengan penuh penghematan.
Bantuan Sembako untuk Kebutuhan Pangan

Paket bantuan yang diberikan kepada masing-masing penerima terdiri dari:
- Beras 5 kilogram
- Minyak goreng 2 liter
- Mie instan 20 bungkus
- Telur 1 kilogram
- Garam 400 gram
- Sarden 1 kaleng
- Susu kental manis 1 kaleng
- Biskuit Regal 3 pack
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari Ibu Saripah serta Ibu Ana dan suaminya.
Sedikit Meringankan Kebutuhan di Hari Tua
Ibu Saripah dan Ibu Ana menjalani kehidupan dengan kondisi yang berbeda, namun keduanya sama-sama menghadapi keterbatasan ekonomi dan tempat tinggal.
Ibu Saripah hidup seorang diri dan masih memulung untuk mendapatkan penghasilan. Sementara Ibu Ana harus menjalani hari tua dengan gangguan pendengaran dan bergantung pada penghasilan suaminya yang hanya sekitar Rp20.000 per hari.
Melalui bantuan sembako ini, Yayasan Amal Peduli Nusantara berharap kebutuhan pangan keduanya dapat sedikit terbantu.
Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi Ibu Saripah, Ibu Ana, dan keluarga. Semoga keduanya diberikan kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

