Sabtu, 27 Juni 2026. Pukul 10 : 12 WIB

( Dokumentasi : Rumah Rusak Akibat Gempa Sulawesi Tengah 5.180 Unit, Foto bersumber dari situs Darilaut )
Sulawesi Tengah — Proses penanganan pascagempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 masih terus berlangsung hingga 23 Juni 2026. Pemerintah bersama berbagai instansi terkait terus melakukan upaya tanggap darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak serta mempercepat proses pemulihan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data terbaru, bencana ini mengakibatkan 3 orang meninggal dunia, 95 orang mengalami luka-luka, serta 9.501 jiwa atau sekitar 3.262 kepala keluarga (KK) terdampak. Selain berdampak pada masyarakat, gempa juga menyebabkan kerusakan pada ribuan bangunan tempat tinggal.
Hasil pendataan sementara mencatat sebanyak 3.846 rumah mengalami kerusakan ringan, 1.120 rumah rusak sedang, dan 214 rumah mengalami rusak berat. Besarnya jumlah rumah yang terdampak membuat sebagian warga masih bertahan di lokasi pengungsian maupun hunian sementara sambil menunggu proses perbaikan dan penilaian kondisi bangunan.

( Dokumentasi : Warga berdiri di depan rumahnya yang rusak berat akibat gempa bermagnitudo 6,7 di Desa Kamarora A, Kecamtan Nokilalaki, Sigi, Sulawesi Tengah, Foto bersumber dari situs Antara )
Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih terus terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 1.149 gempa susulan hingga 21 Juni 2026. Kondisi tersebut membuat masyarakat tetap waspada dan menjadi salah satu alasan proses pemulihan dilakukan secara bertahap demi menjaga keselamatan warga.
Selama masa tanggap darurat, pemerintah bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan berbagai unsur lainnya terus mendistribusikan bantuan logistik, mendirikan hunian sementara, memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak, serta melakukan pendataan lanjutan terhadap kerusakan rumah dan fasilitas umum. Penetapan status tanggap darurat juga dilakukan untuk mempercepat koordinasi dan penanganan di lapangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan rawan gempa bumi sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi bencana perlu terus ditingkatkan. Edukasi kepada masyarakat, pembangunan infrastruktur yang lebih tahan gempa, serta sistem respons darurat yang cepat diharapkan dapat mengurangi risiko apabila bencana serupa kembali terjadi di masa mendatang.
Semoga seluruh masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa pemulihan. Besar harapan agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan dengan baik, sehingga warga dapat segera kembali menjalani aktivitas secara aman dan normal. Semoga upaya pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat mempercepat pemulihan wilayah terdampak serta memperkuat kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana di masa yang akan datang.

