Senin, 7 September 2026. Pukul 11 : 21 WIB

( Dokumentasi : Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi . Foto bersumber dari situs Kompas )
Abu Vulkanik Menyebar ke 146 Desa, Aktivitas Penerbangan Sempat Terganggu
LAMPUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat dan memasuki fase erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, mulai Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Erupsi tersebut disertai suara gemuruh, dentuman dan fenomena lava fountain atau semburan lava yang terlihat dari kawasan pengamatan. Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih terus dipantau dan statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga.
Erupsi Berlangsung Terus-Menerus
Berdasarkan pemantauan PVMBG, episode erupsi menerus mulai terekam pada Jumat malam, 4 September pukul 23.07 WIB.
Aktivitas terus berlangsung sepanjang 5 September. Dari pemantauan visual, pada malam hari terlihat pendaran merah dari aktivitas erupsi, sementara pada siang hari tampak kepulan berwarna kehitaman. Fenomena tersebut juga disertai suara gemuruh dan lava fountain.
Pada akhirnya, episode erupsi menerus tersebut berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah itu, PVMBG masih mencatat satu erupsi Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Meski episode panjang telah berakhir, PVMBG menilai potensi letusan susulan masih tinggi. Bahaya yang harus diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan kemungkinan aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.
Abu Vulkanik Mulai Berdampak ke Daratan

( Dokumentasi : Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi . Foto bersumber dari situs Idntimes )
Sebaran abu vulkanik tidak hanya berada di sekitar gunung, tetapi mulai mencapai sejumlah wilayah di daratan.
BNPB melaporkan abu vulkanik telah berdampak pada wilayah Kabupaten Serang di Banten, termasuk Kecamatan Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros dan Padarincang. Di Lampung, pemantauan dilakukan antara lain di wilayah Lampung Selatan dan Tanggamus.
Abu vulkanik juga terpantau mencapai ketinggian sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan menuju barat hingga barat daya. Pergerakan abu terus berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.
32.415 Warga Lampung Selatan Terdampak
Dampak paling jelas terhadap masyarakat tercatat di Kabupaten Lampung Selatan.
Berdasarkan laporan sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 32.415 warga terdampak abu vulkanik. Abu tercatat menyebar ke 146 desa dengan intensitas sedang hingga tebal di sejumlah wilayah. Data tersebut berasal dari laporan 16 puskesmas dari total 28 puskesmas yang ada di Lampung Selatan, sehingga pendataan masih dapat berkembang.
Meski jumlah masyarakat yang terdampak mencapai puluhan ribu jiwa, belum terdapat laporan warga mengungsi maupun gangguan kesehatan yang tercatat akibat paparan abu vulkanik hingga waktu pendataan tersebut.
Dengan demikian, angka 32.415 warga merupakan jumlah warga yang terdampak abu vulkanik, bukan jumlah korban meninggal ataupun jumlah pengungsi.
Aktivitas Penerbangan Sempat Terganggu
Sebaran abu vulkanik juga berdampak terhadap ruang udara dan keselamatan penerbangan.
Pada Minggu, 6 September, BNPB melaporkan sejumlah bandara mengalami penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik. Pada pembaruan pukul 13.00 WIB, tercatat enam bandara masih ditutup sementara, yaitu Soekarno-Hatta, Budiarto, Pondok Cabe, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Husein Sastranegara.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan karena abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat. Kondisi operasional bandara terus diperbarui menyesuaikan perkembangan sebaran abu dan kondisi ruang udara.
Sementara untuk transportasi laut, BNPB melaporkan penyeberangan melalui Selat Sunda masih dapat dilakukan, meskipun otoritas pelabuhan tetap diminta waspada dan mengikuti informasi keselamatan terbaru.
Pemerintah Bergerak Lindungi Masyarakat
BNPB melakukan koordinasi dengan BPBD di wilayah yang terdampak abu vulkanik dan mengirimkan personel untuk memantau kondisi di lapangan.
Pemerintah juga mulai menyalurkan kebutuhan dasar, termasuk masker bagi masyarakat yang terdampak. Kementerian Kesehatan mengimbau warga untuk melindungi saluran pernapasan, mata dan kulit ketika beraktivitas di luar rumah. Puskesmas juga disiagakan untuk mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan akibat paparan abu.
BNPB menyebut hingga pembaruan 6 September, belum ada pemerintah daerah terdampak yang menetapkan status kedaruratan bencana. Pemerintah pusat dan daerah tetap melakukan pemantauan serta menyiapkan langkah antisipasi apabila aktivitas vulkanik meningkat kembali.
PVMBG sendiri tetap menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga) dan meminta masyarakat, wisatawan maupun pendaki tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Data Dampak Sementara hingga 6 September 2026
| Dampak | Data |
|---|---|
| Warga Lampung Selatan terdampak abu | 32.415 jiwa |
| Desa terdampak di Lampung Selatan | 146 desa |
| Puskesmas yang sudah melapor | 16 dari 28 |
| Kabupaten terdampak menurut BNPB | 3 kabupaten |
| Korban jiwa | Belum ada laporan |
| Warga mengungsi di Lampung Selatan | Belum ada laporan |
| Kerusakan bangunan | Belum ada laporan |
| Status Gunung Anak Krakatau | Level III (Siaga) |
| Durasi erupsi menerus | ±25 jam |
Tidak Ada Korban Jiwa, tetapi Warga Tetap Harus Waspada
Hingga pembaruan BNPB pada 6 September, belum terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat erupsi Anak Krakatau. Namun, paparan abu vulkanik sudah dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah dan memengaruhi aktivitas sehari-hari serta penerbangan.
Yayasan Amal Peduli Nusantara berharap seluruh masyarakat di Lampung, Banten dan wilayah lain yang terdampak abu vulkanik selalu diberikan keselamatan dan kesehatan.
Semoga aktivitas Gunung Anak Krakatau segera semakin stabil dan masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan tanpa gangguan. Semoga seluruh petugas yang berada di lapangan diberikan perlindungan dalam menjalankan tugas, sementara pemerintah terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan dan langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan erupsi berikutnya.
Doa dan harapan terbaik untuk seluruh masyarakat yang terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.

