Dari Tukang Urut hingga Pemetik Kangkung, Perjuangan Tiga Lansia di Babakan Asem

Sabtu, 12 September 2026. Pukul 19 : 33 WIB

Memasuki usia lanjut, kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi setiap hari. Namun bagi sebagian lansia, kondisi ekonomi keluarga membuat mereka masih harus bekerja atau bergantung pada penghasilan harian yang sangat terbatas.

Hal tersebut dialami oleh Ibu Nati Bin Saip, Amsinah, dan Dedi, tiga lansia di kawasan Babakan Asem, Tangerang, yang menjalani kehidupan dengan kondisi dan tantangan masing-masing.

Pada Sabtu, 12 September 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan bantuan sembako kepada ketiganya untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan pokok sehari-hari.

Ibu Nati Masih Mengurut di Usia 72 Tahun

Ibu Nati Bin Saip, berusia 72 tahun, tinggal bersama suaminya. Ketiga anak mereka sudah berkeluarga dan menjalani kehidupan masing-masing.

Sementara itu, sang suami bekerja sebagai pencari ikan dengan penghasilan sekitar Rp15 ribu per hari. Penghasilan tersebut tentu sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, Ibu Nati turut berusaha menambah pemasukan keluarga dengan menjadi tukang urut.

Di usia yang sudah lanjut, Ibu Nati masih berusaha bekerja sesuai kemampuannya agar kebutuhan sehari-hari bersama suami tetap dapat terpenuhi.

Amsinah Kehilangan Suami dan Anak

Berbeda dengan Ibu Nati, Amsinah, 60 tahun, harus menjalani kehidupan setelah kehilangan suami dan anaknya.

Kini Amsinah tinggal bersama menantu dan cucunya. Untuk mendapatkan penghasilan, ia bekerja sebagai pemetik kangkung.

Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan yang dapat diandalkan Amsinah di tengah kehidupannya yang terbatas.

Meski tidak mudah, Amsinah tetap berusaha bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

Dedi Tak Bisa Beraktivitas, Istri Menjadi Pencari Nafkah

Sementara itu, Dedi, 60 tahun, mengalami kondisi kaki yang sudah tidak normal sehingga membuatnya tidak dapat beraktivitas seperti biasa.

Selain masalah pada kaki, penglihatannya juga sudah mengalami kesulitan. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya menjadi sangat terbatas.

Dedi tinggal bersama istrinya. Anak-anak mereka disebut jarang memberikan bantuan sehingga kebutuhan rumah tangga lebih banyak ditopang oleh sang istri.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istrinya bekerja sebagai pencabut kangkung dengan penghasilan sekitar Rp20 ribu per hari.

Dengan kondisi tersebut, sang istri harus menjadi pencari nafkah sekaligus mendampingi suaminya yang mengalami keterbatasan aktivitas.

Bantuan Sembako untuk Tiga Lansia

Melihat kondisi ketiga penerima manfaat tersebut, Yayasan Amal Peduli Nusantara memberikan paket sembako yang berisi berbagai kebutuhan pokok.

Setiap paket bantuan terdiri dari:

  • Beras 5 Kg
  • Minyak 2 Liter
  • Mie instan 20 bungkus
  • Telur 1 Kg
  • Garam 500 gram
  • Sarden 1 kaleng
  • Susu kental manis 1 kaleng
  • Biskuit Regal 3 pack

Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan makanan dan kebutuhan pokok sehari-hari bagi Ibu Nati, Amsinah, dan Dedi.

Tiga lansia tersebut memiliki cerita yang berbeda. Ibu Nati masih bekerja sebagai tukang urut untuk membantu penghasilan suaminya yang hanya sekitar Rp15 ribu per hari. Amsinah bertahan setelah kehilangan suami dan anak dengan bekerja sebagai pemetik kangkung. Sementara Dedi harus menjalani aktivitas dengan kondisi kaki dan penglihatan yang terbatas, sedangkan istrinya menjadi pencari nafkah dengan penghasilan sekitar Rp20 ribu per hari.

Semoga bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan kebutuhan mereka dan memberikan manfaat bagi keluarga masing-masing. Semoga Ibu Nati, Amsinah, dan Dedi selalu diberikan kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan di usia senja.