Selasa, 8 September 2026. Pukul 12 : 09 WIB
Tidak semua lansia dapat menikmati masa tua dengan tenang. Sebagian masih harus berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, bekerja dengan kemampuan yang tersisa, atau mengandalkan bantuan warga ketika kondisi keluarga dan ekonomi tidak memungkinkan.
Kondisi seperti itu dialami oleh Ibu Jaetun Binti Kasirun, Muhamad Kambali, dan Tarmunah, tiga lansia di kawasan Penjaringan yang menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan.
Pada Kamis, 3 September 2026, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan bantuan sembako kepada ketiganya. Bantuan tersebut diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Ibu Jaetun Hidup di Bawah Kolong Tol


Ibu Jaetun Binti Kasirun kini berusia 76 tahun dan menjalani hidup seorang diri.
Suaminya diketahui mengalami kepikunan sebelum akhirnya pergi dan menghilang. Hingga sekarang, suaminya tidak pernah kembali. Kondisi tersebut membuat Ibu Jaetun harus menjalani kehidupan tanpa pendamping.
Dengan keadaan yang serba terbatas, Ibu Jaetun bahkan tinggal di bawah kolong tol dan berusaha mendapatkan penghasilan dengan memulung.
Di usia yang sudah lanjut, aktivitas memulung tentu bukan pekerjaan yang mudah. Namun hal tersebut tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pak Kambali Masih Menarik Becak di Usia 65 Tahun


Kisah lainnya datang dari Muhamad Kambali, lansia berusia 65 tahun yang tinggal seorang diri.
Istri dan anaknya saat ini tinggal jauh di kampung. Sementara itu, Pak Kambali menjalani kehidupan sehari-hari dengan menjadi penarik becak.
Penghasilan dari menarik becak tidak selalu ada. Ketika tidak mendapatkan pemasukan, Pak Kambali kerap berutang untuk memenuhi kebutuhan makan.
Anaknya yang sudah berumah tangga juga disebut tidak pernah memberikan bantuan. Akibatnya, Pak Kambali harus mengandalkan tenaganya sendiri untuk bertahan hidup di usia senja.
Tarmunah Jalani Hari Tua dengan Kondisi Kaki yang Sering Bengkak


Sementara itu, Tarmunah, 72 tahun, tinggal bersama anak-anaknya yang sudah menjanda. Suaminya telah meninggal dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Tarmunah sering mendapatkan bantuan makanan dari warga sekitar.
Tarmunah juga mengalami keluhan pada kedua kakinya. Ia sering mengalami memar dan pembengkakan pada kaki, sehingga aktivitas berjalan menjadi semakin sulit.
Kondisi tersebut membuat Tarmunah semakin membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Bantuan Sembako untuk Meringankan Kebutuhan

Untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok mereka, Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan paket sembako kepada masing-masing penerima.
Setiap paket bantuan berisi:
- Beras 5 Kg
- Minyak 2 Liter
- Mie instan 20 bungkus
- Telur 1 Kg
- Garam 500 gram
- Sarden 1 kaleng
- Susu kental manis 1 kaleng
- Biskuit Sari Gandum 20 pcs
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan kebutuhan makanan dan bahan pokok bagi ketiga lansia di tengah kondisi kehidupan mereka yang terbatas.
Ibu Jaetun harus bertahan hidup di bawah kolong tol dengan memulung. Muhamad Kambali masih menarik becak dan sesekali harus berutang ketika tidak mendapatkan pemasukan. Sementara Tarmunah menjalani hari tua dengan kondisi kaki yang sering bengkak dan membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari.
Tiga cerita tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan para lansia dapat menghadapi tantangan yang sangat berbeda. Di tengah keterbatasan yang mereka jalani, perhatian dan kepedulian dari lingkungan sekitar menjadi hal yang berarti.
Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi Ibu Jaetun, Muhamad Kambali, dan Tarmunah, serta membantu meringankan kebutuhan mereka. Semoga ketiganya diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalani hari-hari di usia senja.

