Bertahan dengan Hasil Memulung dan Jualan Kopi, Tiga Lansia di Cilincing Terima Bantuan Sembako

Kamis, 5 November 2026. Pukul 20 : 19 WIB

Pada Selasa, 3 November 2026, Tim Relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyalurkan bantuan sembako kepada tiga warga lanjut usia di wilayah Cilincing. Mereka adalah Harnaeni, 65 tahun, Uci Sanusi, 69 tahun, dan Slamet, 58 tahun. Ketiganya masih menghadapi keterbatasan ekonomi dan harus berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan yang tidak menentu.

Harnaeni Hanya Mendapat Penghasilan Rp15–20 Ribu Setiap Tiga Hari

Harnaeni merupakan seorang lansia yang sudah tidak memiliki suami. Ia memiliki lima anak, tetapi hanya anak sulungnya yang masih memberikan perhatian dan sesekali membantu kebutuhan hidupnya.

Bantuan dari anak sulungnya sekitar Rp100 ribu, tetapi jumlah dan waktunya tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Harnaeni masih bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu setiap tiga hari.

Dengan pendapatan yang sangat terbatas, Harnaeni harus mengatur kebutuhan makan dan keperluan lainnya dengan cermat. Hasil memulung yang diperolehnya tentu belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, terlebih ketika bantuan dari anaknya belum tersedia.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Harnaeni tetap berusaha bekerja agar bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Uci Sanusi Berjualan Kopi dengan Penghasilan Rp20–30 Ribu Sehari

Penerima bantuan berikutnya adalah Uci Sanusi, seorang lansia berusia 69 tahun yang tinggal bersama istrinya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka berjualan kopi dengan keuntungan bersih sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari.

Uci Sanusi sudah tidak tinggal bersama anak-anaknya karena mereka menjalani kehidupan masing-masing. Meski demikian, anak-anaknya sesekali masih memberikan bantuan, salah satunya untuk membantu membayar biaya kontrakan.

Penghasilan dari berjualan kopi harus digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya tempat tinggal dan makanan sehari-hari. Dengan pendapatan yang terbatas, Uci dan istrinya harus mengatur pengeluaran sebaik mungkin agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi.

Slamet Mengalami Stroke dan Mengandalkan Penghasilan Istri

Slamet, 58 tahun, merupakan seorang lansia yang sudah sekitar dua tahun mengalami stroke. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya menjadi terbatas dan membuatnya tidak leluasa untuk bekerja seperti sebelumnya.

Saat ini, Slamet tinggal bersama istrinya yang menjadi pencari nafkah utama dengan bekerja sebagai tukang parkir setiap hari. Keluarga mereka juga terkadang mengandalkan penghasilan tambahan dari pekerjaan sebagai tukang urut.

Slamet memiliki tiga anak, tetapi mereka sudah jarang memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Akibatnya, kebutuhan sehari-hari lebih banyak bergantung pada penghasilan istri yang jumlahnya juga terbatas.

Selain menghadapi kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian, keluarga Slamet juga harus berusaha memenuhi kebutuhan makan dan keperluan rumah tangga dengan pemasukan yang tidak selalu mencukupi.

Bantuan Sembako untuk Membantu Kebutuhan Pangan

Melalui kegiatan sosial ini, Tim Relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara menyerahkan paket sembako kepada Harnaeni, Uci Sanusi, dan Slamet. Masing-masing paket berisi beras 5 kg, minyak goreng 2 liter, mi instan 20 bungkus, telur 1 kg, garam 400 gram, sarden 1 kaleng, susu kental manis 1 kaleng, dan biskuit Regal 3 bungkus.

Bantuan ini diharapkan dapat menambah persediaan makanan dan meringankan sebagian pengeluaran sehari-hari ketiga penerima bantuan. Tambahan bahan pangan ini menjadi dukungan bagi mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan.

Yayasan Amal Peduli Nusantara mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur dan pihak yang telah mendukung kegiatan sosial ini. Kepedulian yang diberikan membantu menjangkau para lansia dan masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.