Banjir Terparah dalam Dua Tahun Rendam Permukiman di Nunukan, Puluhan Rumah Terdampak

Senin, 3 Agustus 2026. Pukul 15 : 21 WIB

Hujan Deras dan Pasang Air Laut Sebabkan Genangan Cepat Meluas di Sejumlah Wilayah

https://images.openai.com/static-rsc-4/l4-JEEwpyxesdStSQGhrsfBFL_2hw8qwQqAuBVb5I7bYnFuvOmrU-SUjTrG9LpSf3l843zUpVk3v4udlXZA2x_Zv3-SQe9Qw5eLeGoksscZWOBWfVfh3DSxff8ScBFs-Md75-E9d3BTFvLRDHO6cv18zKobzWZToUfuUcBLBIS3Y8iz7hho-KhDQmgGzTKGe?purpose=fullsize

( Dokumentasi : Bencana banjir melanda wilayah Nunukan. Foto bersumber dari situs Beraupost )

Nunukan, Kalimantan Utara – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sejak dini hari hingga pagi Senin, 3 Agustus 2026, memicu banjir di sejumlah kawasan permukiman. Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Sungai Sembilan di Kelurahan Selisun (Kecamatan Nunukan Selatan), Jalan Fatahillah di Kelurahan Nunukan Tengah, Jalan Lumba-Lumba, Pasar Baru, hingga Sei Bilal.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sekitar pukul 02.00–07.00 WITA diperparah oleh kapasitas drainase yang tidak lagi mampu menampung debit air. Kondisi air laut yang sedang pasang juga menghambat aliran air menuju laut sehingga genangan cepat meluas.

Sungai Sembilan Menjadi Wilayah Terdampak Terparah

Wilayah Sungai Sembilan, Kelurahan Selisun, menjadi lokasi yang mengalami dampak paling berat. Hampir seluruh rumah di RT 13 dilaporkan terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 1 meter di beberapa titik.

BANJIR - Banjir merendam permukiman warga di kawasan Sungai Sembilan, Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, Senin (3/8/2026). Hujan deras sejak dini hari membuat puluhan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.

( Dokumentasi : Banjir merendam permukiman warga di kawasan Sungai Sembilan, Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, Senin (3/8/2026). Hujan deras sejak dini hari membuat puluhan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.. Foto bersumber dari situs Tribun )

Salah seorang warga, Katarina, menceritakan bahwa air naik sangat cepat sehingga keluarganya harus segera meninggalkan rumah demi keselamatan. Dalam waktu singkat, genangan telah memasuki seluruh ruangan dan merendam berbagai barang berharga seperti kulkas, tempat tidur, pakaian, hingga peralatan rumah tangga.

Menurut kesaksian warga, banjir kali ini merupakan yang terparah dalam dua tahun terakhir.

BPBD Lakukan Evakuasi dan Pendataan

Setelah banjir terjadi, BPBD Nunukan bersama PMI, TNI, Polri, serta unsur pemerintah daerah segera turun ke lokasi untuk membantu evakuasi warga, melakukan penyedotan air dari rumah-rumah yang terdampak, dan mendata kerusakan.

Pemerintah Kabupaten Nunukan juga menginstruksikan agar seluruh rumah yang terdampak maupun kerusakan infrastruktur segera didata sebagai dasar penanganan dan pemulihan.

Pemerintah kecamatan turut mengusulkan pelebaran saluran air di bawah jembatan Sungai Sembilan karena dinilai sudah tidak mampu mengalirkan debit air saat hujan deras dan pasang laut terjadi bersamaan.

Dampak Sementara

Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga 3 Agustus 2026, dampak sementara meliputi:

DampakKeterangan
Rumah terdampakLebih dari 30 rumah (perkiraan warga), hampir seluruh rumah di RT 13 terendam
Ketinggian airHingga sekitar 1 meter
Wilayah terdampakSungai Sembilan (Kel. Selisun), Jalan Fatahillah, Jalan Lumba-Lumba, Pasar Baru, Sei Bilal
Korban meninggalTidak dilaporkan
Korban lukaTidak dilaporkan
KK/Jiwa terdampakMasih dalam pendataan BPBD
Kerusakan infrastrukturMasih dalam proses pendataan pemerintah daerah

Hingga laporan terakhir, belum ada data resmi mengenai jumlah kepala keluarga (KK), jumlah jiwa terdampak, maupun nilai kerusakan akibat banjir.

Harapan dan Doa

Banjir yang melanda Kabupaten Nunukan menjadi pengingat pentingnya peningkatan kapasitas sistem drainase dan pengelolaan aliran air, terutama di wilayah yang berdekatan dengan sungai dan pesisir.

Semoga seluruh warga yang terdampak diberikan keselamatan, kesehatan, dan kekuatan dalam menghadapi masa pemulihan. Harapannya, proses pendataan dan penanganan oleh pemerintah dapat berjalan dengan cepat, infrastruktur yang memerlukan perbaikan segera ditindaklanjuti, serta langkah mitigasi dapat diperkuat sehingga kejadian serupa dapat diminimalkan pada masa mendatang.