Rabu, 14 Oktober 2026. Pukul 11 : 38 WIB

( Dokumentasi : Masjid di Ponpes Darul Mukhlisin terendam banjir luapan sungai setinggi 50 centimeter di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Senin (12/10/2026). Foto bersumber dari situs Antara )
Hujan Deras Picu Sungai Meluap dan Tanggul Jebol, Permukiman serta Lahan Pertanian Terendam
Aceh Tamiang, Aceh — 11–12 Oktober 2026. Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Tamiang sejak Minggu malam, 11 Oktober 2026, menyebabkan sejumlah sungai meluap dan tanggul jebol hingga air masuk ke permukiman warga. Banjir meluas ke 18 desa di sembilan kecamatan, membuat banyak keluarga harus meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang yang diberitakan ANTARA pada Senin, 12 Oktober, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kota Kualasimpang. Kecamatan Tenggulun menjadi salah satu wilayah dengan dampak cukup luas, dengan lima desa dilaporkan terdampak banjir.
Ketinggian air di sejumlah permukiman mencapai 1 hingga 1,5 meter, terutama di Kecamatan Tamiang Hulu. Warga Desa Rongoh dan Bandar Khalifah terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Berdasarkan pembaruan Posko Terpadu Penanganan Banjir pada 12 Oktober pukul 18.00 WIB, sebanyak 1.128 jiwa tercatat mengungsi di tujuh kecamatan. Jumlah tersebut merupakan data sementara dan masih dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

( Dokumentasi : Banjir masih menggenangi rumah warga di Aceh Tamiang, Senin (12/10/2026). Foto bersumber dari situs Nuonline/Warga )
Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup berat adalah Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara. Tanggul sungai di desa tersebut dilaporkan jebol dengan lebar sekitar 30 meter, sehingga air mengalir ke kawasan permukiman dan menggenangi ratusan hektare lahan pertanian. Air di permukiman setempat dilaporkan mencapai sekitar 30–50 sentimeter dengan arus yang cukup deras.
Kerusakan tanggul juga menimbulkan kekhawatiran warga karena terdapat dua titik lain yang mengalami keretakan. Jika tanggul tersebut kembali jebol, permukiman di seberang sungai berisiko mengalami genangan yang lebih luas. Sementara itu, akses menuju Desa Simpang Kiri di Kecamatan Tenggulun sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat genangan air dan material sampah yang terbawa arus.
Banjir juga merendam kawasan pondok pesantren di Desa Sukajadi dan Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Sejumlah warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, termasuk masjid, sekolah, dan rumah kerabat. Petugas BPBD, pemadam kebakaran, dan tim SAR melakukan pemantauan, membantu evakuasi, serta mendata kerugian akibat banjir.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada angka pasti mengenai jumlah keseluruhan rumah yang rusak akibat banjir. Pendataan kerugian material masih dilakukan oleh petugas di lapangan. BPBD juga mengerahkan alat berat untuk membantu penanganan tanggul yang jebol dan mengurangi risiko meluasnya genangan.
Yayasan Amal Peduli Nusantara turut prihatin atas musibah banjir yang dialami masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang. Kami turut sedih melihat rumah warga dan lahan pertanian terendam, tanggul sungai rusak, serta banyak keluarga harus meninggalkan tempat tinggalnya. Semoga warga yang terdampak diberikan keselamatan, kekuatan, dan ketabahan, serta kondisi lingkungan dan fasilitas yang rusak dapat segera dipulihkan agar kehidupan masyarakat kembali berjalan dengan aman.

