Rabu, 9 September 2026. Pukul 18 : 26 WIB

( Dokumentasi : Banjir Langkat . Foto bersumber dari situs Monitor Indonesia )
Hujan Deras di Hulu Sungai Batang Serangan Memicu Luapan, Sejumlah Tanggul Jebol
LANGKAT, SUMATERA UTARA — Banjir yang mulai melanda sejumlah wilayah Kabupaten Langkat pada 6 September 2026 berkembang menjadi bencana yang lebih luas dalam beberapa hari berikutnya. Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung terus-menerus di wilayah hulu menyebabkan debit Sungai Batang Serangan meningkat dan meluap ke permukiman warga.
Salah satu wilayah yang terdampak sejak Minggu, 6 September, adalah Desa Sekoci, Kecamatan Besitang. Pada kejadian awal tersebut, banjir merendam sejumlah dusun dengan ketinggian air mencapai sekitar 1 meter, bahkan laporan lapangan berikutnya menyebut sejumlah titik mencapai sekitar 2 meter. Sekitar 20 KK sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman di Madrasah Nurul Iman Haji Anif.
Namun, banjir Langkat kemudian meluas ke wilayah lain setelah hujan kembali mengguyur daerah hulu pada 7 September.
Dampak Meluas ke Empat Kecamatan
Berdasarkan data BPBD Sumatera Utara yang tersedia sebelum batas waktu publikasi 9 September pukul 15.00 WIB, banjir di Langkat tercatat berdampak terhadap sekitar 2.678 KK yang tersebar di empat kecamatan, yakni:
Batang Serangan, Sawit Seberang, Padang Tualang dan Tanjung Pura.
Di Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan, sekitar 840 KK terdampak dengan ketinggian air antara 30 sentimeter hingga 1 meter.
Kemudian di Desa Alur Gadung, Kecamatan Sawit Seberang, sekitar 630 KK terdampak dengan ketinggian air sekitar 30–60 sentimeter.
Di Desa Tebing Tanjung Selamat, Kecamatan Padang Tualang, sekitar 728 KK terdampak dengan ketinggian air 30–70 sentimeter.
Sementara di Kelurahan Pekan Tanjung Pura, sekitar 480 KK terdampak dengan ketinggian air 30–70 sentimeter.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir Langkat telah jauh meluas dibandingkan laporan awal di Desa Sekoci pada 6 September.
Tanggul Jebol, Air Lebih Cepat Masuk ke Permukiman

( Dokumentasi : Petugas BNPB mengevakuasi warga terdampak banjir langkat . Foto bersumber dari tangkapan layar instagram langkatterkini )
BPBD Langkat menjelaskan bahwa banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang turun terus-menerus di wilayah hulu selama sekitar dua hari. Kondisi tersebut membuat debit sungai meningkat tajam.
Situasi semakin parah setelah tanggul pengaman sungai jebol di beberapa titik, sehingga air lebih cepat meluap ke permukiman warga.
Khusus di Desa Sekoci, banjir juga diperparah oleh pasang tinggi air laut di muara sungai, sehingga aliran air tidak dapat mengalir dengan lancar menuju laut dan kembali meluap ke daratan.
Pemerintah Siagakan Perahu dan Bantuan
BPBD Kabupaten Langkat melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah lokasi terdampak. Pemerintah juga menyiapkan sarana evakuasi serta bantuan kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam penanganan di beberapa wilayah, BPBD menyalurkan sembako, menyiapkan dua unit tenda keluarga dan dua unit perahu fiber, serta menempatkan personel siaga di lokasi terdampak.
Pemerintah Kabupaten Langkat juga menggelar rapat koordinasi bersama Forkopimda untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Berdasarkan kaji cepat pemerintah daerah per 8 September 2026, kawasan banjir telah mencakup Padang Tualang, Sawit Seberang, Tanjung Pura, Batang Serangan, Hinai, Sei Lepan dan Besitang. Pada saat yang sama, longsor dilaporkan terjadi di Sei Bingai dan Salapian.
Pemkab Langkat menyiagakan personel, perahu karet, mobil tangki air serta perlengkapan evakuasi. Posko Pusdalops BPBD juga beroperasi selama 24 jam untuk memantau perkembangan situasi.
Sebagian Warga Masih Bertahan di Rumah
Dalam laporan BNPB mengenai banjir Langkat pada 7 September, sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing meskipun genangan mencapai sekitar 20–120 sentimeter di beberapa wilayah. Pemerintah mengimbau masyarakat segera mengikuti arahan petugas apabila kondisi kembali memburuk atau diperlukan evakuasi.
Untuk Desa Sekoci yang mengalami genangan sangat tinggi, warga dari sejumlah dusun sempat dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Banjir di kawasan tersebut kemudian berangsur surut, tetapi pemantauan tetap dilakukan karena hujan masih berpotensi kembali meningkatkan debit air.
Banjir Disertai Longsor di Sejumlah Wilayah
Selain banjir, hasil kaji cepat pemerintah daerah per 8 September juga mencatat kejadian longsor di Kecamatan Sei Bingai dan Salapian. Kondisi tersebut menambah risiko bagi masyarakat karena cuaca ekstrem masih berlangsung di wilayah Langkat.
Pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan lebat, banjir susulan dan longsor, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah serta kawasan yang memiliki potensi pergerakan tanah.
Data Dampak Banjir
| Dampak | Data terbaru yang tersedia sebelum 15.00 WIB, 9 September |
|---|---|
| KK terdampak | ±2.678 KK |
| Kecamatan terdampak dalam data BPBD Sumut | 4 kecamatan |
| Wilayah yang dalam kaji cepat Pemkab per 8 September | 7 kecamatan |
| Ketinggian air | ±30 cm–1 meter di sejumlah titik |
| Desa Sekoci | 4 dusun terdampak |
| Pengungsian awal Desa Sekoci | ±20 KK |
| Longsor | Sei Bingai dan Salapian |
| Korban jiwa | Belum ada laporan dari data yang digunakan |
Catatan penting: angka 2.678 KK merupakan data BPBD Sumatera Utara yang tersedia pada 8 September dan masih menjadi angka kuantitatif paling jelas yang dapat digunakan sebelum pukul 15.00 WIB pada 9 September. Ada laporan yang terbit setelah batas waktu tersebut yang menyebut angka dampak lebih tinggi, sehingga sengaja tidak saya masukkan ke berita ini agar benar-benar sesuai waktu publikasi yang kamu minta.
Harapan untuk Masyarakat Langkat
Yayasan Amal Peduli Nusantara mendoakan seluruh masyarakat Kabupaten Langkat yang terdampak banjir agar selalu diberikan keselamatan, kesehatan dan kekuatan.
Semoga air segera surut dan warga yang terdampak dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan aman. Semoga rumah, jalan, tanggul serta fasilitas masyarakat yang mengalami kerusakan dapat segera dipulihkan.
Semoga pemerintah daerah bersama seluruh pihak terkait terus memperkuat sistem peringatan dini, normalisasi dan pengawasan tanggul serta penanganan kawasan rawan banjir dan longsor, sehingga risiko bencana dapat ditekan dan masyarakat tidak terus menghadapi ancaman yang sama.
Doa dan harapan terbaik untuk seluruh masyarakat Kabupaten Langkat.

