Selasa, 3 November 2026. Pukul 19 : 53 WIB

( Dokumentasi : Hujan lebat di kawasan Gunung Semeru menyebabkan banjir, salah satunya di wilayah Tempursari Lumajang, terpantau rumah warga rusak dampak dari banjir yang membawa matrial Gunung Semeru, Senin (2/11/2026). Foto bersumber dari situs Kelumajang )
Lumajang, Jatim – Hujan dengan intensitas sedang hingga deras yang mengguyur Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sejak akhir Oktober hingga awal November 2026, menyebabkan serangkaian bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan, tanah longsor, serta pohon tumbang di sejumlah wilayah. Bencana tersebut berdampak pada permukiman, akses jalan, jaringan listrik, dan lahan pertanian masyarakat. Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa, 3 November 2026, sebanyak 1.567 kepala keluarga (KK) terdampak dan 13 rumah tercatat mengalami kerusakan. Pendataan terhadap kondisi warga dan kerusakan di lapangan masih terus dilakukan oleh petugas.
Salah satu kejadian yang menimbulkan korban jiwa terjadi di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, pada Sabtu dini hari, 31 Oktober 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat malam menyebabkan kondisi tanah di kawasan lereng menjadi labil hingga terjadi longsor yang menimpa sebuah rumah warga. Dua orang penghuni rumah, yaitu Imron Rosadi berusia 40 tahun dan anak perempuannya, Hilya berusia 9 tahun, meninggal dunia setelah tertimbun material tanah. Keduanya merupakan satu keluarga dan telah dievakuasi oleh warga setempat setelah kondisi cuaca mulai memungkinkan. Selain menimbulkan korban jiwa, bagian rumah seperti dapur, kamar mandi, kamar belakang, dan gudang juga mengalami kerusakan akibat tertimpa material longsor.

( Dokumentasi : Rumah korban yang tertimbun longsor di Lumajang. Foto bersumber dari situs Liputan6 )
Bencana kembali meluas pada 1–2 November setelah hujan berintensitas tinggi menyebabkan sejumlah sungai meluap dan tanggul mengalami kerusakan. Dampak cukup serius terjadi di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, ketika banjir lahar hujan dari aliran Sungai Glidik menyebabkan tanggul di wilayah Dusun Pasirejo jebol. Material air dan lahar mengakibatkan tiga rumah mengalami kerusakan, sementara 10 rumah lainnya berada dalam kondisi terancam mengalami kerusakan pada bagian teras akibat gerusan tanah. Selain itu, sekitar 117 kepala keluarga di Dusun Taman Sari sempat terisolasi setelah jembatan limpas di Sungai Glidik tidak dapat dilalui akibat tingginya aliran air. Jalan penghubung Purorejo–Tamansari Bawah sepanjang kurang lebih 100 meter juga dilaporkan terputus sehingga mobilitas masyarakat terganggu.
Selain Tempursari, banjir genangan juga terjadi di Kecamatan Jatiroto, khususnya di Dusun Persil, Desa Rojopolo. Genangan air dilaporkan mencapai sekitar 20–60 sentimeter dan berdampak pada kurang lebih 500 jiwa. Di Kecamatan Pasirian, tanggul aliran Sungai Regoyo juga mengalami kerusakan akibat meningkatnya debit air. Secara keseluruhan, BNPB mencatat rangkaian kejadian banjir, longsor, dan cuaca ekstrem tersebut tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Lumajang. Dalam pembaruan yang lebih luas, kejadian dilaporkan mencakup 13 desa di tujuh kecamatan dengan jumlah 1.567 KK terdampak. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga yang rumahnya terendam atau rusak, tetapi juga masyarakat yang mengalami gangguan akses transportasi, jaringan listrik, dan kegiatan pertanian.
Untuk menangani kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Lumajang bersama Tim Reaksi Cepat, pemerintah daerah, TNI, Polri, PLN, serta unsur terkait melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi terdampak. Petugas juga melakukan pembersihan material longsor untuk membuka kembali akses jalan tembus Tamansari–Iburaja yang sebelumnya terputus. Setelah dilakukan penanganan, jalur tersebut mulai dapat dilalui kembali. Pemantauan terhadap debit sungai, kondisi tanggul, jembatan, serta rumah-rumah yang berisiko mengalami kerusakan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan. Bantuan logistik turut disalurkan kepada warga terdampak, termasuk makanan siap saji dan kebutuhan tambahan gizi.
BNPB mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar lereng Gunung Semeru dan bantaran sungai, agar tetap waspada terhadap potensi hujan deras dan banjir lahar susulan. Warga diminta menjauhi aliran sungai yang berpotensi dilalui banjir lahar hujan serta mengikuti arahan petugas apabila diminta menjauh dari kawasan berbahaya. Kondisi lingkungan yang masih berpotensi mengalami peningkatan debit air perlu mendapatkan perhatian agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Yayasan Amal Peduli Nusantara turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Imron Rosadi dan Hilya yang meninggal dunia akibat tertimpa longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi kehilangan tersebut. Kami juga turut prihatin atas musibah banjir dan longsor yang berdampak pada ribuan keluarga di Kabupaten Lumajang. Semoga warga yang terdampak diberikan kekuatan untuk melewati masa pemulihan, akses yang terputus dapat kembali normal, serta kondisi permukiman dan lingkungan masyarakat segera pulih sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan aman.

