60 KK atau 200 jiwa lebih di Kampung Limbangan Sukabumi Kesulitan Air Bersih. Setiap hari menembus 1 Kilometer demi Air bersih.

Rabu, 4 November 2026. Pukul 15 : 11 WIB 

( Dokumentasi : tim relawan Amal Peduli Nusantara ketika melakukan pengecekan sumber aliran air untuk kampung limbangan, desa neglasari, sukabumi )

KP. LIMBANGAN, SUKABUMI – Mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari masih menjadi perjuangan bagi warga Kampung Limbangan, RT 04, RW 29, Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sekitar 60 kepala keluarga atau lebih dari 200 jiwa di kampung ini harus menghadapi keterbatasan sumber air, bahkan tidak jarang berjalan kaki hampir satu kilometer hanya untuk mendapatkan air bagi kebutuhan rumah tangga.

( Dokumentasi : Rumah-rumah warga yang mayoritas masih rumah panggung berbahan dasar kayu & masih memasak dengan menggunakan kayu bakar )

Melihat kondisi tersebut, tim relawan Yayasan Amal Peduli Nusantara melakukan survei lapangan pada Selasa dan Rabu, 3–4 November 2026. Survei ini dilakukan menyusul permohonan dari pengurus RT dan tokoh masyarakat setempat yang berharap adanya bantuan pembangunan sarana air bersih agar warga tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

( Dokumentasi : 2 sumur galian warga yang kini kering karena musim kemarau )

Berdasarkan hasil survei, selama ini masyarakat mengandalkan dua sumur galian serta aliran mata air kecil dari sungai yang kotor dan tidak layak minum sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, keberadaan saluran-saluran air tersebut belum mampu memberikan pasokan air yang stabil dan layak konsumsi Terlebih saat musim kemarau tiba, debit air sering kali menurun hingga sumur mengalami kekeringan. Kondisi ini membuat warga semakin kesulitan mendapatkan air, padahal kebutuhan rumah tangga tetap harus terpenuhi setiap hari.

( Dokumentasi : Tim relawan mendatangi titik penampungan air dari sungai )

Selain dua sumur tersebut, terdapat aliran sungai yang airnya tidak layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Sementara itu, sumber mata air lain yang tersedia memiliki aliran sangat kecil sehingga belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, warga harus mencari sumber air yang lebih jauh dengan membawa berbagai wadah penampungan seperti galon dan jerigen ( jeriken ). Jarak yang harus ditempuh mencapai hampir satu kilometer, kemudian mereka kembali dengan membawa air untuk digunakan di rumah.

( Dokumentasi : Tim relawan saat melakukan survey melalui medan terjal dan sulit dilalui kendaraan )

Perjalanan tim relawan menuju lokasi turut memberikan gambaran nyata mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat. Jalan yang terjal dan medan yang cukup sulit dilalui menjadi saksi betapa tidak mudahnya kehidupan warga di kampung tersebut. Bagi masyarakat yang sudah berusia lanjut, perjalanan untuk mendapatkan air tentu menjadi tantangan yang jauh lebih berat.

( Dokumentasi : Tim relawan saat melakukan survey melalui medan terjal dan sulit dilalui kendaraan )

Keadaan ini tentu menjadi beban tersendiri, terutama bagi warga lanjut usia dan anak-anak kecil yang masih harus melakukan aktivitas mengambil air. Sebagian besar masyarakat Kampung Limbangan juga menggantungkan penghasilan dari hasil bertani. Dengan kondisi perekonomian yang bergantung pada pekerjaan tersebut, kesulitan mendapatkan air bersih menjadi persoalan tambahan yang cukup berat bagi kehidupan keluarga mereka.

( Dokumentasi : Tim relawan saat melakukan rapat dengan warga kampung limbangan & melihat titik yang akan dibangun menjadi sumber mata air )

Melalui hasil survei ini, Yayasan Amal Peduli Nusantara berupaya mengkaji kebutuhan pembangunan sarana air bersih dengan memanfaatkan potensi sumber mata air baru di lokasi yang telah ditentukan bersama masyarakat. Rencananya, proses pencarian sumber air akan melibatkan tenaga tukang air berpengalaman dengan bantuan peralatan detektor air untuk membantu menemukan titik mata air baru.

( Dokumentasi : Tukang bor yang juga ahli pencari mata air ketika memvalidasi titik sumber mata air dengan alat deteksi mata air ‘)

Apabila sumber mata air baru berhasil ditemukan dan pembangunan dapat direalisasikan, air nantinya diharapkan dapat dialirkan melalui jaringan pipa menuju tempat penampungan berkapasitas 5.000 liter sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Dengan demikian, warga bisa mendapatkan akses air yang lokasinya dekat perumahan warga dan tidak harus terus-menerus berjalan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

( Dokumentasi : Tim relawan mendatangi beberapa toko material untuk mengumpulkan bahan yang akan digunakan dalam membangun saluran air bersih )

Adapun material yang dibutuhkan dalam rencana pembangunan sarana air bersih ini meliputi tangki penampungan air, berbagai ukuran pipa, perlengkapan sambungan dan instalasi, serta bahan pendukung konstruksi. Beberapa kebutuhan material tersebut antara lain:

Daftar Kebutuhan Material Pembangunan Sarana Air Bersih:

  • Tangki Penguin 5.000 Liter BT
  • Pipa Rucika 1 inci
  • Pipa Rucika 4 inci
  • Pipa 1/2 inci
  • Pipa Rucika 5 inci AW
  • Knee 2 inci AW
  • Lem Isarplas
  • Socket 1 x 1/2 inci
  • Tee 1 inci
  • Stop kran 1 inci
  • Kran plastik
  • Seal tape
  • Tee 1 x 1/2 inci
  • SDP 1/2
  • Plug 1/2
  • Kabel ties 30 cm
  • Knee 1 inci
  • Semen SCG
  • Alc Aplus
  • Angkur 2x
  • Tambang 8 mm
  • Radar
  • Pasir
  • Split
  • Hebel
  • Wermes
  • Kabel twiss
  • Kabel suprem
  • Konektor listrik
  • Mesin Air HCL
  • Biaya Jasa Pengeboran

Yayasan Amal Peduli Nusantara berharap rencana pembangunan sarana air bersih ini dapat menjadi solusi bagi sekitar 60 kepala keluarga atau lebih dari 200 jiwa di Kampung Limbangan. Bukan hanya memudahkan warga mendapatkan air, tetapi juga mengurangi beban perjalanan yang selama ini harus mereka tempuh, terutama ketika musim kemarau membuat sumber air semakin terbatas.

Bagi masyarakat Kampung Limbangan, ketersediaan air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Melalui rencana bantuan ini, diharapkan suatu saat warga dapat memperoleh air dengan lebih mudah, tanpa harus berjalan hampir satu kilometer dan khawatir kehabisan sumber air setiap kali musim kemarau datang.