Selasa, 13 Januari 2026. Pukul 16 : 33 WIB
Di balik ramainya kawasan Muara Karang dan Pluit, masih ada lansia yang menjalani hari tua dengan bekerja sendiri demi sekadar bertahan hidup. Tanpa pendamping, tanpa keluarga yang mendampingi, mereka terus berjuang dengan kemampuan yang tersisa.
Yayasan Amal Peduli Nusantara menyalurkan bantuan paket sembako kepada tiga lansia yang hidup dalam keterbatasan di wilayah tersebut.
Bantuan untuk Kebutuhan Sehari-hari

Paket sembako yang diberikan berisi beras, minyak goreng, mi instan, sarden, susu kental manis, telur, garam, dan biskuit regal. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan para lansia dalam beberapa waktu ke depan.
Kasmui (68 Tahun), Penjual Kopi Keliling


Kasmui, lansia berusia 68 tahun, baru saja kehilangan istrinya yang meninggal dunia. Kini ia hidup seorang diri. Dua anaknya tinggal berjauhan dan tidak lagi memberikan perhatian.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Kasmui berjualan kopi keliling setiap hari dengan penghasilan yang tidak menentu.
Emah (67 Tahun), Hidup Sebatang Kara


Emah, 67 tahun, menjalani hidup tanpa suami dan tanpa anak. Ia benar-benar hidup seorang diri. Demi bertahan, Emah berjualan ikan asin dengan penghasilan yang sangat terbatas, bergantung pada kondisi pasar dan cuaca.
Aman (63 Tahun), Tukang Urut dengan Upah Minim


Aman, lansia berusia 63 tahun, telah lama ditinggal wafat oleh istrinya. Ia memiliki satu anak yang tinggal jauh di Papua dan sudah lama tidak memberikan kabar.
Di usia senjanya, Aman masih bekerja sebagai tukang urut dengan upah minim untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
Menguatkan Mereka yang Bertahan Sendiri
Melalui bantuan ini, Yayasan Amal Peduli Nusantara berharap dapat meringankan beban para lansia yang harus berjuang sendiri di usia senja.
Kepedulian sederhana menjadi pengingat bahwa mereka tidak sepenuhnya sendiri. Uluran tangan yang diberikan hari ini diharapkan mampu menghadirkan rasa diperhatikan dan sedikit kelegaan dalam kehidupan mereka.

